small review : proposal lines

December 9th, 2007 by autodestructive

"i’m a shit without you"
– taken from the movie Riding in Cars with Boys

"marry me girl be my fairy to the world be my very own constellation"
– taken from the song Californication by Red Hot Chilli Pepper

lines that spoken in a single breath that can make someone’s world turn around and smile. choose your words carefully… C=

more lines to be added, or anyone can give some acknowledgement or simply ideas?

ps. congratulations for to newlyweds people i know, and the newlywed-gonnabees. cheers!

little notes : tell me why i hate blogs! i hate friendster blog as my profile can be seen and that makes people rather give judgement on my personality than my thoughts. i hate blogspot as it required a google id to make an account. i hate myself as well as i ever made a fukkin sinful blog there that i just forget the username. hell. anyone can suggest a good place to make a blog??? please please please

shortstory review : The Cask of Amontillado

August 25th, 2007 by autodestructive

seperti halnya graham coxon menyelamatkan gw di estetika, cerita pendek yang terbit pertama kali tahun 1846 [yes yes this world is that old] ini menyelamatkan gw di ujian akhir filsafat bahasa. dari tiga soal yang agak teknis tentang filsafat bahasa, soal keempat memerintahkan untuk bercerita tentang salah satu karya sastra yang pernah dibaca [karena kalo blom pernah dibaca gimana ya cara ceritanya? xp] dan dihubungkan dengan salah satu teori filsafat bahasa. cerita ini gw jelaskan dengan teori bahasanya sartre mengenai pengobjekkan. bukannya menjelaskan tentang pengaruh si cerita terhadap pembaca, gw malah mengaplikasi teori tsb dalam hubungan antarkarakter dalam cerita. gak ada instruksi yang jelas di soalnya, dan gak ada cerita lain atau teori lain yang bisa gw pikirin, so it went so. gw kira gw salah nalar, but i earned 85 though. yeay. long live classic literature


inti dari cerita ini [yang juga adalah KESELURUHAN cerita - explanations later] adalah Montresor yang membunuh Fortunato dengan motif balas dendam. cerita ini bersudutpandang orang pertama [using 'I'], tapi seolah ia bercerita kepada orang yang sudah sangat mengetahui dirinya [ia menggunakan frase "you, who so well know the nature of my soul"] yang berakibat tidak ada penjelasan apa-apa mengenai hal-hal di luar kejadian yang sedang berlangsung [current issue] [tenang, jangan mati penasaran hanya karena tidak tahu alasan, motif, latar belakang cerita. we all dont know it, even Fortunato]. dari awal cerita, diperindah dengan narasi akuan, kita dengan mudah membaca dan merasakan alam pikiran Montresor yang dingin, marah, tapi tetap dingin, rasional, dan tidak panik. sama sekali. intepretasikan emosimu sendiri. ini salah satu ciri khas Allan Poe yang diduga menginspirasi lahirnya cerita-cerita detektif di waktu mendatang. paragraf-paragraf deskriptif tersusun, tapi tidak membuat cerita sempit dan menumbuhkan rasa penasaran yang berlebihan. susunan ceritanya begitu rapi sehingga pembaca terbawa flow dan berilusi sebagai ‘invisible third party’ yang mengekor kedua orang itu menuju kematian salah satunya. rasa penasaran yang ada hanyalah ‘bagaimana selanjutnya’ bukan ‘kenapa demikian, emangnya dia ngapain’. efek dingin kalimat-kalimat narasi membuat kematian Fortunato akhirnya terjadi begitu saja, dengan cara yang tidak umum, tanpa ada dramatisasi. bahkan bisa jadi membuat pembaca lupa beremosi. jangan lupa, kita sedang mandi dalam darah dingin Montessor, kita mengikuti detak jantungnya dan membaca pikirannya yang sedang berlangsung. bisa jadi kita melupakan emosi kita sendiri. yes, the narrative is THAT BLOODY ABSOLUTELY GOOD.
dalam cerita ini banyak detil-detil kata yang jangan sampai terlewat kita bisa terlalu menyibukkan diri dengan emosi dan imajinasi sehingga detil-detil kecil terlewat. hati-hati karena bisa kelewatan hal penting. masalah diksi, karena ini klasik, jadi banyak kata-kata yang agak asing. kalo baca yang versi asli, siap-siap kamus. masalah bahasa juga, sempat dipertanyakan setting cerita tersebut karena ada gabungan elemen-elemen beberapa negara Eropa seperti motto Skotlandia, anggur Spanyol, dan beberapa hal lain..
eh? jadi dimana teori bahasanya? pengobjekkan. gimana Montessor melakukan persuasi terhadap Fortunato demi mencapai tujuannya. pengobjekkan dengan bahasa.
pesan moral dari cerita ini :
.hati-hati dengan pujian atau reversi dari orang lain
.Nemo me Impune Laccesit ["no one wounds me with impunity"]

m review : nightmare on elm street dreams warrior

August 17th, 2007 by autodestructive

one of my favourite horror movie. secara logika jelas fred krueger lebih ‘mungkin terjadi’ ketimbang jason yang tampak manusiawi -bukan hantuwi- tapi dibunuh gak mati-mati. di sekuel kedua yang juga berarti film ketiga nightmare on elm street ini dijelaskan lebih jauh masa lalu fred krueger, lebih jauh dari sekedar ia adalah pembunuh anak-anak semasa hidupnya. cukup terjawab juga kenapa dia gak mati-mati juga selama ini [selain karena cara munculnya yang lewat mimpi sebagai alasan ia susah dibasmi] [dan sayangnya penjelasan itu jadi gak berarti kemballi di akhir cerita. biasalah film horror].
dream warriors membuat suatu lompatan logika yang lebih jauh, maksudnya semakin masuk akal. fenomena mimpi buruk anak berusaha dijelaskan secara ilmiah. entah orang tua yang males ngurusin anaknya atau memang khawatir beneran sehingga anak-anak tersebut dirawat di sanctuary. dua konflik umum dalam film ; generation gap dimana orang tua tidak percaya pada ucapan anaknya dan si anak juga agak bermasalah yang membuat mereka jadi kurang mudah dipercaya, dan pertempuran dunia ilmiah versus mistik yang belum berkesudahan. walaupun tampak klise, tapi kedua hal itu memang supporter utama tema film ini. penampakkan freddy,seperti biasa, keren. penggunaan special effect yang lebih baik daripada film-film sebelumnya [jangan bandingkan efek tahun 80an dengan 90an] semakin membuatnya menarik. i like the scene ketika tiba-tiba ada sepeda roda tiga berjejak darah di roda-rodanya masuk ke kamar si anak tokoh utama. perpindahan antara realitas dan mimpi sengaja dibuat kabur, agar penonton juga dapat melihat sebagaimana anak-anak tersebut melihat. pas ngantuk, kadang-kadang kita juga nggak menyadari transisi tersebut kan. dan sebagaimana mimpi semua hal bisa terjadi dan,jika memungkinkan, bisa dikontrol. thats why they are called dream warriors, the warriors inside their dream to survive their life.
mengenai karakter, secara umum porsi setiap orang hampir cukup besar, dalam artian cukup berperan dalam pengguliran cerita berikutnya. tapi sebenarnya tetap masih ada tokoh utama, yang entah kenapa diberitahukan secara agak eksplisit dalam filmnya sendiri lewat dialog. perbedaan si tokoh utama dengan tokoh yang lain hanya sebatas skill, bukan sejauh mana ia mengendalikan cerita atau ia sebagai center of attention [they're sharing dream, anyway], selain bahwa dia adalah seorang survivor sampai kata the end. sayangnya, tetap banyak jatuh korban yang agak sia-sia. memang butuh satu-dua korban pada awal cerita untuk memberikan ilustrasi pada penonton mengenai bagaimana kejadian terjadi [egois sekali xp], tapi pada saat klimaks adalah menyebalkan untuk melihat korban masih jatuh. dalam hal ini si sutradara tidak berbeda dari fred krueger, pembunuh anak-anak tidak bersalah.
well this movie quite interesting. sukses menyampaikan hal-hal yang ingin disampaikan. salah satu film horror yang tidak sekedar bertujuan agar penonton takut, tapi juga dapat dikaji. contohnya secara ilmiah : mimpi hasil kerja syaraf otak, atau secara psikonalisis. freud yakin mimpi adalah jendela pikiran bawah sadar. bisa dibahas dari sana, tapi ini kolom review bukan kajian ilmiah. hahah. bagi yang berminat silakan membahas di comment.
eh iya. opening film ini sebuah quote :
"Sleep
Those little slices of Death
How i loathe it"

Edgar Allan Poe! i adore his writings a lot. wew. what a match, the quote, the movie, and my taste.
a good-to-watch movie
rating four out of five [pertimbangkan era pembuatannya, tentu]

my review for aesthetic class

July 17th, 2007 by autodestructive

Gc_aesthetix

Lukisan ini adalah salah satu hasil karya dari berjudul “The Blue Dog ( The Golden D )” karya Graham Coxon, seorang musisi sekaligus seniman asal Inggris. Lukisan ini dibuat pada tahun 1998 dengan media cat minyak di atas kanvas berukuran 114cm x 91cm. Lukisan ini dijadikan sampul album solo Graham Coxon yang berjudul “The Golden D” pada tahun yang sama. Dapat dilihat dari komposisi bentuknya bahwa karya ini cukup bersifat surealistik. Meskipun bentuk-bentuk dari tiap komponennya dapat kita temukan dalam dunia nyata tetapi tidak dalam komposisi dan penggambaran yang demikian. Contohnya seperti bentuk manusia dengan wajah merah dan jantung terlihat. Atau bentuk bola cahaya yang jelas tidak memberikan “penerangan” dalam lukisan ini karena warna-warna yang dominan tetap berwarna cenderung gelap dan suram dan minim warna cerah. Hanya ada sedikit sekali warna terang di sini. Kesan surrealis juga tampak dari penggambaran ukuran beberapa bentuk komponen-komponen tersebut. Ukuran bentuk-bentuk tersebut dibuat cenderung lebih besar. Lihat burung gagak di sebelah kanan dan tengkorak merah di sebelah kiri.

Ada

beberapa bentuk yang tidak diberi warna khusus secara solid tapi sekedar mengikuti warna-warna latarnya, yaitu beberapa tengkorak kepala di bagian bawah.

Ada

detil-detil yang hanya dapat ditangkap jika kita lebih jeli memperhatikan lukisan ini, yaitu seperti sebuah bentuk dengan garis melengkung berwarna cokelat di balik pundak si “manusia”. Jika digabungkan dengan bentuk lingkaran yang mengelilingi kepalanya dan konsep penggambaran umum, kita bisa berspekulasi bahwa ini adalah penggambaran seorang malaikat dengan lingkaran cahaya di belakang kepala dan bentuk melengkung berwarna cokelat tadi adalah sayapnya. Warna-warna dalam lukisan ini didominasi oleh warna-warna gelap.

Ada

beberapa percampuran warna tanpa membuatnya gradatif. Terdapat juga beberapa detil goresan seperti yang ada di belakang kucing dan pada latar di dekat kaki si manusia yang mungkin adalah malaikat. Selain itu, di dekat kaki anjing terlihat ada penyisaan ruang kosong sedikit. Secara keseluruhan lukisan ini nampak “gelap”, baik secara pewarnaan ataupun pemaknaan, dan detil.

            Untuk melihat sebuah karya, adalah haram untuk melihat kepada si pembuatnya juga. Demikian menurut teori “the Death of the Author” oleh Roland Barthes. Tetapi untuk mengkritik lukisan “The Blue Dog ( The Golden D )” ini ada baiknya untuk mengintip untuk sedikit mengetahui Graham Coxon. Ia lahir di

Hannover

, Jerman, pada tahun 1969 dan karirnya dalam dunia seni cukup panjang. Karirnya dimulai dari tahun 1987 ketika ia menjadi mahasiswa jurusan seni rupa (fine art) di

Goldsmith

 

College

, Inggris. Pada tahun 1989, ia drop-out untuk berkonsentrasi penuh bermusik dalam grup band Blur sebagai gitaris. Selain gitar, ia juga memainkan banyak instrumen-instrumen lain. Meski fokus pada kegiatan bermusik, ia tetap menyempatkan diri membuat karya-karya seni rupa. Beberapa hasil karyanya, termasuk lukisan “The Blue Dog (The Golden D)” ini, dijadikan sampul album solonya ataupun Blur. Coxon keluar dari Blur pada tahun 2002 tetapi masih aktif bermusik dengan proyek album solonya. Pada tahun 2005, ia menggelar pameran seni rupa tunggal di

London

. Selain membuat lukisan, ia juga membuat karya seni instalasi tetapi tidak sebanyak jumlah lukisannya.

Graham Coxon memiliki ciri khas tertentu. Selain karya-karyanya cenderung surrealis yang mungkin merupakan teriakan jujur psikologisnya. Dalam sebuah lukisan lain, ”Apprentice” yang dibuat pada tahun 1996, terdapat bentuk tengkorak yang hampir persis sama dengan tengkorak merah yang ada pada lukisan ini. Sudut pengambilan, ukuran, dan letak dalam komposisinya sama persis. Hal ini bisa jadi mencerminkan sisi gelap dalam dirinya dan sisi gelap tersebut memiliki kontinuitas sehingga dalam jarak waktu yang berjauhan sisi tersebut dalam keluar lagi dalam karya yang berbeda. Begitu juga dengan burung gagak. ”Burung gagak” selanjutnya muncul dalam album solo berikutnya. Tidak ada ekspresi kesenangan dalam lukisan ini, termasuk pada wajah si manusia/malaikat. Ekspresi burung gagak dan kucing pun menampakkan ketidaksenangan. Burung gagak tampak licik menatap manusia/malaikat. Si kucing bersikap defensif dan mengancam. Hanya si anjing (yang namanya menjadi judul lukisan ini padahal warnanya hanya sedikit sekali mengandung unsur warna biru) yang ”dengan baik hatinya” memperlihatkan ekspresi bersahabat dengan menjilat wajah si manusia/malaikat. Adegan ”bersahabat” itu, meski tidak disertai ekspresi bersahabat juga pada wajah si manusia/malaikat, dilatari warna kuning, warna yang paling terang dalam lukisan ini.

Secara instrumentalisme, Graham Coxon menjadikan seni lukis sebagai instrumen untuk mengekspresikan emosi-emosi dan psikologisnya. Graham Coxon adalah seseorang yang introvert, sehingga ia menjadikan jalan seni sebagai instrumen untuk melampiaskan psikologisnya. Ia sendiri mengakui adanya suatu ekspresi yang ia tuangkan dan kembangkan dalam lukisannya. Dalam wawancaranya yang dikutip grahamcoxonart.com, ia mengakui bahwa karya-karyanya sangat jujur dalam berkarya.

”so! Retrospective…. its a grand word and a frightening word. More accurately it’s an invitation to take a look at the work of a confused mind…. a mind that hasn’t yet had the opportunity to find itself comfortably within a visual identity.”

Ia menggunakan kata “retrospective” (menunjukkan) untuk menunjukkan bahwa karya-karyanya merupakan suatu media yang dapat memperlihatkan pembuatnya, dalam kasus ini, dirinya sendiri, sehingga dapat dilihat secara gamblang oleh para penikmatnya.

“but one can see through oneself a little more easily than others can, if we are honest, and when i look at my visual work it’s easy for me to see their creator as a confused, inconsistent hobbyist or, at worst, a painter and decorator who owns a few art books.”

Tetapi baginya akan lebih mudah mengintepretasi suatu karya bagi si senimannya sendiri dibandingkan dengan jika orang lain yang melakukannya. Sebuah karya dapat mencerminkan keadaan si senimannya sendiri sehingga orang lain, meskipun tetap dapat menangkap makna yang disampaikan dalam sebuah karya, tidak mungkin lebih mengetahuinya daripada si seniman sendiri. Ini juga merupakan efek dari sifat introvertnya.

“I’ve drawn for longer than I have played music. I’ve had that creative thing all my life, because I would have gone totally crazy if I hadn’t been able to draw or make music. Sometimes, I’ve almost been like a commercial artist in the way that I’ve done things specifically for record sleeves, and for the most part, my personal artwork has been to entertain myself.”

Ia juga mengakuinya melalui kutipan barusan. Ketika kegiatan seni melalui bermusik sering ”dimasukkan” ke dalam ”kotak” bernama industri, mungkin hal tersebut menjadi pembatasan dalam mengeksplorasi kreativitasannya. Seni rupa, khususnya lukis, masih menjadi ruang tanpa batas bagi pengungkapan naluri seninya.

Ditilik dari segi formalisme, bentuk-bentuk dalam lukisan ”The Blue Dog (The Golden D)” ini akan tampak tidak bermakna. Seperti yang telah dijelaskan dalam deskripsi objektif, lukisan ini sangat surrealis. Seseorang mungkin menganggap lukisan ini seperti salah satu adegan dalam sebuah mimpi buruk ketika tidur. Sesuatu yang gelap, suram, menakutkan, tetapi tanpa suatu makna yang spesifik jelas. Bentuk tanpa dimaknai hanya akan menjadi suatu bentuk semata. Jika demikian, lukisan ini, dengan segala imaji gelapnya, tidak dapat dinikmati semua orang.

Memang karya ini tampak sangat suram, seperti potongan adegan dalam sebuah mimpi buruk. Bagi saya, hal tersebut tidak sepenuhnya demikian. Saya setuju bahwa betapa menyeramkannya, jika kita asumsikan peran utama dalam lukisan ini adalah si manusia/malaikat, berada di suatu tempat berwarna gelap yang sumber cahayanya tidak membantu banyak, yang lantainya dipenuhi tengkorak-tengkorak kepala manusia, dan dikelilingi hewan-hewan yang tampak mengancam. Tetapi dalam keadaan tidak menyenangkan seperti itu, adalah sangat bahagia ketika masih ada suatu makhluk yang masih mempedulikan kita, meskipun ia ”hanya” seekor anjing bahkan mirip Anubis, dewi kematian bagi masyarakat Mesir. Peristiwa tersebut menjadi hal tercerah dalam adegan mimpi buruk tadi sehingga ”membawa” warna kuning pada latarnya. Itu juga mungkin yang ikut menjadi judul lukisan, ”The Blue Dog ( The Golden D )”. Warna kuning diasosiasikan dengan emas. Emas diasosiasikan sebagai sesuatu yang langka dan amat berharga. Dalam kesuraman, dalam mimpi buruk, ternyata masih ada hal yang berharga di

sana

.

Graham Coxon mungkin bukan seniman yang begitu mashyur dengan lukisan-lukisannya yag indah dan dapat membuat setiap penikmatnya mengalami pengalaman estetis yang begitu kental. Tetapi ia jelas memiliki kejujuran dan gambaran-gambaran yang membuat para penggemarnya dapat mengetahui dirinya sekaligus menikmati karyanya.

Ada

kesinambungan antara karya seni rupa dan musik ciptaannya yag merupakan bagian dari keutuhan dirinya tanpa harus terpecah-pecah terlalu jauh.

PS. THIS BLOG IS FINALLY MEETS ITS PERSONALITY, TO BE A BLOG ONLY FOR REVIEWS.. YEEYY

review:i told you life isnt going to be that very much beautiful

July 17th, 2007 by autodestructive

Va dove Ti porta il cuore [pergilah kemana hati membawamu]
– susanna tamaro

gw baru baca sekitar tiga bab dan ‘agak’ menyerah kemudian berpikir untuk meneruskan baca lain kali, tunggu mood dan strength. sebenernya cuman baca segitu gak pantes udah nulis review, tapi gw pengen nulis reviewnya, gimana dong xp. dari 77 halaman lebih yang sudah dibaca dari 200an halaman yang ada, rasanya gak ada feeling lain yang kerasa selain jantung di-slice tipis-tipis dan perut dipuntir. bahkan dari baca pengantar saja gw udah ngerasa tertampar keras-keras. oke, mungkin gw terlalu sentimentil. tapi banyak kalimat-kalimat pahit yang memang harus ditelan dari tiap halamannya. it hurts but its true. yes yes it is a love story, of a human to another, and also about surviving this life, HOWEVER it is and it would be. ceritanya terasa sangat dekat, terjangkau jari. bahkan mungkin ada yang juga merasakan pengalaman yang sama dengan yang ditulis disini. flowing nya terasa. perubahan terlihat, dan terjadi dalam kurun waktu yang masuk akal, meskipun alurnya maju mundur. pemilihan katanya sensitif, menyampaikan langsung apa yang dimaksud ke hati - bukan ke otak [bravo buat si penulis dan penerjemahnya!] mungkin gw terlalu takut untuk ngerasain feeling2 sepahit itu. hmpf. atau mungkin sebenernya tidak sepahit itu, tapi suasana hati saya sedang bermasalah waktu itu. apapun. you’ll find moral in this story. dan jika kamu sedih saat membaca buku ini, usahakan jangan ciptakan kisah yang minimal sama sedihnya dengan cerita ini. pilih sikap yang lebih baik. sesuai bait puisi di back cover buku ini : " Dan kelak, di saat begitu banyak jalan terbentang di hadapanmu
dan kau tak tahu jalan mana yang harus kauambil, janganlah memilihnya dengan asal saja, tetapi duduklah dan tunggulah sesaat. Tariklah napas dalam-dalam, dengan penuh kepercayaan, seperti saat kau bernapas di hari pertamamu di dunia ini.
jangan biarkan apapun mengalihkan perhatianmu, tunggulah dan tunggulah lebih lama lagi. berdiam dirilah, tetap hening, dan dengarkanlah hatimu.
lau, ketika hati itu bicara, beranjaklah,
dan pergilah kemana hati membawamu "

pada pengantarnya ditulis bahwa ada isu2 feminisme yang terkandung dalam buku ini. well, sebagai bukan pengamat feminisme, i just ignore the statement. gak ngerti juga sebenernya. huhuh. this is life, mixed up of too many things. another thing, buku ini termasuk hasil misi kebudayaan Italia. Italia bukan termasuk kebudayaan yang sepopuler Jepang di Indonesia. for you who would like to know how Italians think, speak, and feel, read this.
setelah baca sebagian kecil buku ini, gw cukup yakin untuk reconfirm : "i told you life isnt always beautiful" yeah yeah, lucky you people who has beautiful life

ps. terimakasih buat pipit yang ngasih buku ini. maaf baru sempet dibaca. sebagai sesama kampustressmania taulah kenapa c=

more movie review

May 19th, 2007 by autodestructive

EVERYTHING IS ILLUMINATED

jonathan s. foer (played by elijah wood), seorang kolektor barang2 keluarga, tinggal di amerika tetapi karena suatu alasan dia pergi ke ukraina. mencari seorang perempuan yang ada di foto kakeknya. dia nyewa semacam travel yang emang visinya membantu orang2 yahudi yang nyari keluarganya yang hilang.ternyata pencarian desa trachimbrod [tempat perempuan itu dan kakeknya dulu tinggal sebelum perang]ternyata gak gampang. trachimbrod itu nama desa yang dulu digunakan [formerly used]. smacam batavia buat jakarta. dan keadaan sangat jauh berbeda sebelum, pada saat, dan sesudah perang…..hasil pencariannya pun berefek di luar dugaan

noticeablething #1 : pemandangan yang diekspos bagus banget. warnanya [entah di set atau emang alami] bener2 cantik. setengah dari pandangan mata masih langit. tapi ini bukan film dengan tujuan pariwisata. di antara hijau-hijaunya rumput di bawah birunya langit terselip besi-besi bangkai senjata perang. this movie was speaking in bitter low voice
noticeablething#2 : betapa benda-benda terkecil di sekeliling kita sesungguhnya memiliki makna. apalagi yang pemiliknya sudah tidak ada. kebiasaan jonathan mungkin kliatan aneh, tapi sebenernya cukup penting
noticeablething#3 : kayaknya film ini buatan eropa, bukan amerika. jalan ceritanya flownya lambat, dingin, gak ekspresif (tapi masih ada lucunya), metaforis, dan detil-detil kecilnya perlu diperhatikan karena kemungkinan keluar di adegan-adegan kemudian. juga dikasih liat masalah perbedaan kultur. biasanya film budaya kan yang begitu?
noticeablething#4 : elijah wood di sini mirip sama graham coxon di video "to the end". dari pakaian, belahan rambut, bahkan bentuk kacamata.ini alesan utama gw nonton sebenernya. bahwa ternyata filmnya sangat bagus itu ya syukurlah. hehehe…
JoinEverythingisilluminated_01_1 Everything_illuminated1

la la la la…come and see then try

May 19th, 2007 by autodestructive

Leaderboard
Create your own Friend Test here

. . . . . .

April 13th, 2007 by autodestructive

legalisasi bunuh diri!

mafia testimonial, mania testimofial?

April 11th, 2007 by autodestructive

mstelah menggunakan friendster cukup lama, gw ngeliat beberapa tipe testimonial yang agak tipikal. at least buat gw. ada beberapa yg pengen gw tulis skarang :
1. tipe teman lama. yang nanya apa kabar dan sbagainya..
2. tipe temak akrab. yang ngobrol2, ngajak pergi, ngasih kabar, atau ngajak ngobrol.
3. tipe curhat kelewatan.yang mengumbar ssuatu yg harusnya gak perlu ditulis di tempat publik kayak profile page. kayak apalah curhat yg terlalu mendetil atau …. [lanjut ke poin berikutnya]
4. …bertujuan untuk memperlihatkan sesuatu. ini mirip tipe yg di poin 1 tapi dgn tujuan yang lebih jelas. misalnya pengen orang tertentu baca biar merasa tersindir..
5. tipe pengen eksis. isi testi biasanya gak penting, yang penting fotonya doong yang bagus dengan harapan menarik orang2 yg ngeliat profile temen yg ditestiin. kali aja dapet jodoh. haha xp
6. tipe niat ngebanyak2in testi. dgn ngisi testi temen dia berharap temennya juga bales dan nambah jumlah testi di profilenya.
gak jelek anyway. ini cuman analisa. ada yang mau nambahin? beberapa tipe udah diklarifikasi oleh salah seorang teman, secara khusus, dia yang bkin gw kecebur di situs ini. heh, gantian tar gw yang nyetirin lo ke antah berantah.

" say what you want / say what you need "

692 kilometres to go, 1 lifetime to think about

March 22nd, 2007 by autodestructive

Take me home, take me home
I know another place to be
Take me home, take me home
You deserve a girl like me


Come on, I know somewhere,
you can unwind
We can just disappear,
now’s the time


Take me home, take me home
Only fair I get my way
Take me home, take me home
Oh, it’s gonna happen every way

I know what’s good for you,
don’t pass me by
I will look after you,
you’ll be fine

I’m in heaven, show you heaven
So much heaven

Let’s make a move
Let’s leave this world behind
I know you, approve
By the look in your eyes

I’m in heaven, show you heaven
So much heaven

Take me home, take me home
I will show you where to walk
Take me home, take me home
Baby, let the people talk

We’ll get away from here
I’m reading your mind
We can just disappear,
now’s the time

I’m in heaven, show you heaven
Take me home
Oh, take me home
Take me home
In this moment, one night with you
All alone with nothing to lose

Let’s make a move
Let’s leave this world behind
I know you approve
by the look in your eyes

I’m in heaven, show you heaven
So much heaven

Take me home, take me home
Now’s the time to follow me
Take me home…

Come and let what ought to be
Take me home, take me home
Take me home, take me home
Take me home…

I’m in heaven,
show you heaven
So much heaven
Take me home

–sophie ellis-bextor

16-20 maret 2007. i admit a runaway. i ran to jokja and went contented. and by the cold wall of returning i stood and swept. take me home, where i should be from when i should be. theres nothing we can do with regret..although theres always only one thing to choose. darn!

" to live a better life, i need my love* to be here "
*love of everything, actually. specifically, generally…