Archive for July, 2007

my review for aesthetic class

Tuesday, July 17th, 2007

Gc_aesthetix

Lukisan ini adalah salah satu hasil karya dari berjudul “The Blue Dog ( The Golden D )” karya Graham Coxon, seorang musisi sekaligus seniman asal Inggris. Lukisan ini dibuat pada tahun 1998 dengan media cat minyak di atas kanvas berukuran 114cm x 91cm. Lukisan ini dijadikan sampul album solo Graham Coxon yang berjudul “The Golden D” pada tahun yang sama. Dapat dilihat dari komposisi bentuknya bahwa karya ini cukup bersifat surealistik. Meskipun bentuk-bentuk dari tiap komponennya dapat kita temukan dalam dunia nyata tetapi tidak dalam komposisi dan penggambaran yang demikian. Contohnya seperti bentuk manusia dengan wajah merah dan jantung terlihat. Atau bentuk bola cahaya yang jelas tidak memberikan “penerangan” dalam lukisan ini karena warna-warna yang dominan tetap berwarna cenderung gelap dan suram dan minim warna cerah. Hanya ada sedikit sekali warna terang di sini. Kesan surrealis juga tampak dari penggambaran ukuran beberapa bentuk komponen-komponen tersebut. Ukuran bentuk-bentuk tersebut dibuat cenderung lebih besar. Lihat burung gagak di sebelah kanan dan tengkorak merah di sebelah kiri.

Ada

beberapa bentuk yang tidak diberi warna khusus secara solid tapi sekedar mengikuti warna-warna latarnya, yaitu beberapa tengkorak kepala di bagian bawah.

Ada

detil-detil yang hanya dapat ditangkap jika kita lebih jeli memperhatikan lukisan ini, yaitu seperti sebuah bentuk dengan garis melengkung berwarna cokelat di balik pundak si “manusia”. Jika digabungkan dengan bentuk lingkaran yang mengelilingi kepalanya dan konsep penggambaran umum, kita bisa berspekulasi bahwa ini adalah penggambaran seorang malaikat dengan lingkaran cahaya di belakang kepala dan bentuk melengkung berwarna cokelat tadi adalah sayapnya. Warna-warna dalam lukisan ini didominasi oleh warna-warna gelap.

Ada

beberapa percampuran warna tanpa membuatnya gradatif. Terdapat juga beberapa detil goresan seperti yang ada di belakang kucing dan pada latar di dekat kaki si manusia yang mungkin adalah malaikat. Selain itu, di dekat kaki anjing terlihat ada penyisaan ruang kosong sedikit. Secara keseluruhan lukisan ini nampak “gelap”, baik secara pewarnaan ataupun pemaknaan, dan detil.

            Untuk melihat sebuah karya, adalah haram untuk melihat kepada si pembuatnya juga. Demikian menurut teori “the Death of the Author” oleh Roland Barthes. Tetapi untuk mengkritik lukisan “The Blue Dog ( The Golden D )” ini ada baiknya untuk mengintip untuk sedikit mengetahui Graham Coxon. Ia lahir di

Hannover

, Jerman, pada tahun 1969 dan karirnya dalam dunia seni cukup panjang. Karirnya dimulai dari tahun 1987 ketika ia menjadi mahasiswa jurusan seni rupa (fine art) di

Goldsmith

 

College

, Inggris. Pada tahun 1989, ia drop-out untuk berkonsentrasi penuh bermusik dalam grup band Blur sebagai gitaris. Selain gitar, ia juga memainkan banyak instrumen-instrumen lain. Meski fokus pada kegiatan bermusik, ia tetap menyempatkan diri membuat karya-karya seni rupa. Beberapa hasil karyanya, termasuk lukisan “The Blue Dog (The Golden D)” ini, dijadikan sampul album solonya ataupun Blur. Coxon keluar dari Blur pada tahun 2002 tetapi masih aktif bermusik dengan proyek album solonya. Pada tahun 2005, ia menggelar pameran seni rupa tunggal di

London

. Selain membuat lukisan, ia juga membuat karya seni instalasi tetapi tidak sebanyak jumlah lukisannya.

Graham Coxon memiliki ciri khas tertentu. Selain karya-karyanya cenderung surrealis yang mungkin merupakan teriakan jujur psikologisnya. Dalam sebuah lukisan lain, ”Apprentice” yang dibuat pada tahun 1996, terdapat bentuk tengkorak yang hampir persis sama dengan tengkorak merah yang ada pada lukisan ini. Sudut pengambilan, ukuran, dan letak dalam komposisinya sama persis. Hal ini bisa jadi mencerminkan sisi gelap dalam dirinya dan sisi gelap tersebut memiliki kontinuitas sehingga dalam jarak waktu yang berjauhan sisi tersebut dalam keluar lagi dalam karya yang berbeda. Begitu juga dengan burung gagak. ”Burung gagak” selanjutnya muncul dalam album solo berikutnya. Tidak ada ekspresi kesenangan dalam lukisan ini, termasuk pada wajah si manusia/malaikat. Ekspresi burung gagak dan kucing pun menampakkan ketidaksenangan. Burung gagak tampak licik menatap manusia/malaikat. Si kucing bersikap defensif dan mengancam. Hanya si anjing (yang namanya menjadi judul lukisan ini padahal warnanya hanya sedikit sekali mengandung unsur warna biru) yang ”dengan baik hatinya” memperlihatkan ekspresi bersahabat dengan menjilat wajah si manusia/malaikat. Adegan ”bersahabat” itu, meski tidak disertai ekspresi bersahabat juga pada wajah si manusia/malaikat, dilatari warna kuning, warna yang paling terang dalam lukisan ini.

Secara instrumentalisme, Graham Coxon menjadikan seni lukis sebagai instrumen untuk mengekspresikan emosi-emosi dan psikologisnya. Graham Coxon adalah seseorang yang introvert, sehingga ia menjadikan jalan seni sebagai instrumen untuk melampiaskan psikologisnya. Ia sendiri mengakui adanya suatu ekspresi yang ia tuangkan dan kembangkan dalam lukisannya. Dalam wawancaranya yang dikutip grahamcoxonart.com, ia mengakui bahwa karya-karyanya sangat jujur dalam berkarya.

”so! Retrospective…. its a grand word and a frightening word. More accurately it’s an invitation to take a look at the work of a confused mind…. a mind that hasn’t yet had the opportunity to find itself comfortably within a visual identity.”

Ia menggunakan kata “retrospective” (menunjukkan) untuk menunjukkan bahwa karya-karyanya merupakan suatu media yang dapat memperlihatkan pembuatnya, dalam kasus ini, dirinya sendiri, sehingga dapat dilihat secara gamblang oleh para penikmatnya.

“but one can see through oneself a little more easily than others can, if we are honest, and when i look at my visual work it’s easy for me to see their creator as a confused, inconsistent hobbyist or, at worst, a painter and decorator who owns a few art books.”

Tetapi baginya akan lebih mudah mengintepretasi suatu karya bagi si senimannya sendiri dibandingkan dengan jika orang lain yang melakukannya. Sebuah karya dapat mencerminkan keadaan si senimannya sendiri sehingga orang lain, meskipun tetap dapat menangkap makna yang disampaikan dalam sebuah karya, tidak mungkin lebih mengetahuinya daripada si seniman sendiri. Ini juga merupakan efek dari sifat introvertnya.

“I’ve drawn for longer than I have played music. I’ve had that creative thing all my life, because I would have gone totally crazy if I hadn’t been able to draw or make music. Sometimes, I’ve almost been like a commercial artist in the way that I’ve done things specifically for record sleeves, and for the most part, my personal artwork has been to entertain myself.”

Ia juga mengakuinya melalui kutipan barusan. Ketika kegiatan seni melalui bermusik sering ”dimasukkan” ke dalam ”kotak” bernama industri, mungkin hal tersebut menjadi pembatasan dalam mengeksplorasi kreativitasannya. Seni rupa, khususnya lukis, masih menjadi ruang tanpa batas bagi pengungkapan naluri seninya.

Ditilik dari segi formalisme, bentuk-bentuk dalam lukisan ”The Blue Dog (The Golden D)” ini akan tampak tidak bermakna. Seperti yang telah dijelaskan dalam deskripsi objektif, lukisan ini sangat surrealis. Seseorang mungkin menganggap lukisan ini seperti salah satu adegan dalam sebuah mimpi buruk ketika tidur. Sesuatu yang gelap, suram, menakutkan, tetapi tanpa suatu makna yang spesifik jelas. Bentuk tanpa dimaknai hanya akan menjadi suatu bentuk semata. Jika demikian, lukisan ini, dengan segala imaji gelapnya, tidak dapat dinikmati semua orang.

Memang karya ini tampak sangat suram, seperti potongan adegan dalam sebuah mimpi buruk. Bagi saya, hal tersebut tidak sepenuhnya demikian. Saya setuju bahwa betapa menyeramkannya, jika kita asumsikan peran utama dalam lukisan ini adalah si manusia/malaikat, berada di suatu tempat berwarna gelap yang sumber cahayanya tidak membantu banyak, yang lantainya dipenuhi tengkorak-tengkorak kepala manusia, dan dikelilingi hewan-hewan yang tampak mengancam. Tetapi dalam keadaan tidak menyenangkan seperti itu, adalah sangat bahagia ketika masih ada suatu makhluk yang masih mempedulikan kita, meskipun ia ”hanya” seekor anjing bahkan mirip Anubis, dewi kematian bagi masyarakat Mesir. Peristiwa tersebut menjadi hal tercerah dalam adegan mimpi buruk tadi sehingga ”membawa” warna kuning pada latarnya. Itu juga mungkin yang ikut menjadi judul lukisan, ”The Blue Dog ( The Golden D )”. Warna kuning diasosiasikan dengan emas. Emas diasosiasikan sebagai sesuatu yang langka dan amat berharga. Dalam kesuraman, dalam mimpi buruk, ternyata masih ada hal yang berharga di

sana

.

Graham Coxon mungkin bukan seniman yang begitu mashyur dengan lukisan-lukisannya yag indah dan dapat membuat setiap penikmatnya mengalami pengalaman estetis yang begitu kental. Tetapi ia jelas memiliki kejujuran dan gambaran-gambaran yang membuat para penggemarnya dapat mengetahui dirinya sekaligus menikmati karyanya.

Ada

kesinambungan antara karya seni rupa dan musik ciptaannya yag merupakan bagian dari keutuhan dirinya tanpa harus terpecah-pecah terlalu jauh.

PS. THIS BLOG IS FINALLY MEETS ITS PERSONALITY, TO BE A BLOG ONLY FOR REVIEWS.. YEEYY

review:i told you life isnt going to be that very much beautiful

Tuesday, July 17th, 2007

Va dove Ti porta il cuore [pergilah kemana hati membawamu]
– susanna tamaro

gw baru baca sekitar tiga bab dan ‘agak’ menyerah kemudian berpikir untuk meneruskan baca lain kali, tunggu mood dan strength. sebenernya cuman baca segitu gak pantes udah nulis review, tapi gw pengen nulis reviewnya, gimana dong xp. dari 77 halaman lebih yang sudah dibaca dari 200an halaman yang ada, rasanya gak ada feeling lain yang kerasa selain jantung di-slice tipis-tipis dan perut dipuntir. bahkan dari baca pengantar saja gw udah ngerasa tertampar keras-keras. oke, mungkin gw terlalu sentimentil. tapi banyak kalimat-kalimat pahit yang memang harus ditelan dari tiap halamannya. it hurts but its true. yes yes it is a love story, of a human to another, and also about surviving this life, HOWEVER it is and it would be. ceritanya terasa sangat dekat, terjangkau jari. bahkan mungkin ada yang juga merasakan pengalaman yang sama dengan yang ditulis disini. flowing nya terasa. perubahan terlihat, dan terjadi dalam kurun waktu yang masuk akal, meskipun alurnya maju mundur. pemilihan katanya sensitif, menyampaikan langsung apa yang dimaksud ke hati - bukan ke otak [bravo buat si penulis dan penerjemahnya!] mungkin gw terlalu takut untuk ngerasain feeling2 sepahit itu. hmpf. atau mungkin sebenernya tidak sepahit itu, tapi suasana hati saya sedang bermasalah waktu itu. apapun. you’ll find moral in this story. dan jika kamu sedih saat membaca buku ini, usahakan jangan ciptakan kisah yang minimal sama sedihnya dengan cerita ini. pilih sikap yang lebih baik. sesuai bait puisi di back cover buku ini : " Dan kelak, di saat begitu banyak jalan terbentang di hadapanmu
dan kau tak tahu jalan mana yang harus kauambil, janganlah memilihnya dengan asal saja, tetapi duduklah dan tunggulah sesaat. Tariklah napas dalam-dalam, dengan penuh kepercayaan, seperti saat kau bernapas di hari pertamamu di dunia ini.
jangan biarkan apapun mengalihkan perhatianmu, tunggulah dan tunggulah lebih lama lagi. berdiam dirilah, tetap hening, dan dengarkanlah hatimu.
lau, ketika hati itu bicara, beranjaklah,
dan pergilah kemana hati membawamu "

pada pengantarnya ditulis bahwa ada isu2 feminisme yang terkandung dalam buku ini. well, sebagai bukan pengamat feminisme, i just ignore the statement. gak ngerti juga sebenernya. huhuh. this is life, mixed up of too many things. another thing, buku ini termasuk hasil misi kebudayaan Italia. Italia bukan termasuk kebudayaan yang sepopuler Jepang di Indonesia. for you who would like to know how Italians think, speak, and feel, read this.
setelah baca sebagian kecil buku ini, gw cukup yakin untuk reconfirm : "i told you life isnt always beautiful" yeah yeah, lucky you people who has beautiful life

ps. terimakasih buat pipit yang ngasih buku ini. maaf baru sempet dibaca. sebagai sesama kampustressmania taulah kenapa c=