Archive for August, 2007

shortstory review : The Cask of Amontillado

Saturday, August 25th, 2007

seperti halnya graham coxon menyelamatkan gw di estetika, cerita pendek yang terbit pertama kali tahun 1846 [yes yes this world is that old] ini menyelamatkan gw di ujian akhir filsafat bahasa. dari tiga soal yang agak teknis tentang filsafat bahasa, soal keempat memerintahkan untuk bercerita tentang salah satu karya sastra yang pernah dibaca [karena kalo blom pernah dibaca gimana ya cara ceritanya? xp] dan dihubungkan dengan salah satu teori filsafat bahasa. cerita ini gw jelaskan dengan teori bahasanya sartre mengenai pengobjekkan. bukannya menjelaskan tentang pengaruh si cerita terhadap pembaca, gw malah mengaplikasi teori tsb dalam hubungan antarkarakter dalam cerita. gak ada instruksi yang jelas di soalnya, dan gak ada cerita lain atau teori lain yang bisa gw pikirin, so it went so. gw kira gw salah nalar, but i earned 85 though. yeay. long live classic literature


inti dari cerita ini [yang juga adalah KESELURUHAN cerita - explanations later] adalah Montresor yang membunuh Fortunato dengan motif balas dendam. cerita ini bersudutpandang orang pertama [using 'I'], tapi seolah ia bercerita kepada orang yang sudah sangat mengetahui dirinya [ia menggunakan frase "you, who so well know the nature of my soul"] yang berakibat tidak ada penjelasan apa-apa mengenai hal-hal di luar kejadian yang sedang berlangsung [current issue] [tenang, jangan mati penasaran hanya karena tidak tahu alasan, motif, latar belakang cerita. we all dont know it, even Fortunato]. dari awal cerita, diperindah dengan narasi akuan, kita dengan mudah membaca dan merasakan alam pikiran Montresor yang dingin, marah, tapi tetap dingin, rasional, dan tidak panik. sama sekali. intepretasikan emosimu sendiri. ini salah satu ciri khas Allan Poe yang diduga menginspirasi lahirnya cerita-cerita detektif di waktu mendatang. paragraf-paragraf deskriptif tersusun, tapi tidak membuat cerita sempit dan menumbuhkan rasa penasaran yang berlebihan. susunan ceritanya begitu rapi sehingga pembaca terbawa flow dan berilusi sebagai ‘invisible third party’ yang mengekor kedua orang itu menuju kematian salah satunya. rasa penasaran yang ada hanyalah ‘bagaimana selanjutnya’ bukan ‘kenapa demikian, emangnya dia ngapain’. efek dingin kalimat-kalimat narasi membuat kematian Fortunato akhirnya terjadi begitu saja, dengan cara yang tidak umum, tanpa ada dramatisasi. bahkan bisa jadi membuat pembaca lupa beremosi. jangan lupa, kita sedang mandi dalam darah dingin Montessor, kita mengikuti detak jantungnya dan membaca pikirannya yang sedang berlangsung. bisa jadi kita melupakan emosi kita sendiri. yes, the narrative is THAT BLOODY ABSOLUTELY GOOD.
dalam cerita ini banyak detil-detil kata yang jangan sampai terlewat kita bisa terlalu menyibukkan diri dengan emosi dan imajinasi sehingga detil-detil kecil terlewat. hati-hati karena bisa kelewatan hal penting. masalah diksi, karena ini klasik, jadi banyak kata-kata yang agak asing. kalo baca yang versi asli, siap-siap kamus. masalah bahasa juga, sempat dipertanyakan setting cerita tersebut karena ada gabungan elemen-elemen beberapa negara Eropa seperti motto Skotlandia, anggur Spanyol, dan beberapa hal lain..
eh? jadi dimana teori bahasanya? pengobjekkan. gimana Montessor melakukan persuasi terhadap Fortunato demi mencapai tujuannya. pengobjekkan dengan bahasa.
pesan moral dari cerita ini :
.hati-hati dengan pujian atau reversi dari orang lain
.Nemo me Impune Laccesit ["no one wounds me with impunity"]

m review : nightmare on elm street dreams warrior

Friday, August 17th, 2007

one of my favourite horror movie. secara logika jelas fred krueger lebih ‘mungkin terjadi’ ketimbang jason yang tampak manusiawi -bukan hantuwi- tapi dibunuh gak mati-mati. di sekuel kedua yang juga berarti film ketiga nightmare on elm street ini dijelaskan lebih jauh masa lalu fred krueger, lebih jauh dari sekedar ia adalah pembunuh anak-anak semasa hidupnya. cukup terjawab juga kenapa dia gak mati-mati juga selama ini [selain karena cara munculnya yang lewat mimpi sebagai alasan ia susah dibasmi] [dan sayangnya penjelasan itu jadi gak berarti kemballi di akhir cerita. biasalah film horror].
dream warriors membuat suatu lompatan logika yang lebih jauh, maksudnya semakin masuk akal. fenomena mimpi buruk anak berusaha dijelaskan secara ilmiah. entah orang tua yang males ngurusin anaknya atau memang khawatir beneran sehingga anak-anak tersebut dirawat di sanctuary. dua konflik umum dalam film ; generation gap dimana orang tua tidak percaya pada ucapan anaknya dan si anak juga agak bermasalah yang membuat mereka jadi kurang mudah dipercaya, dan pertempuran dunia ilmiah versus mistik yang belum berkesudahan. walaupun tampak klise, tapi kedua hal itu memang supporter utama tema film ini. penampakkan freddy,seperti biasa, keren. penggunaan special effect yang lebih baik daripada film-film sebelumnya [jangan bandingkan efek tahun 80an dengan 90an] semakin membuatnya menarik. i like the scene ketika tiba-tiba ada sepeda roda tiga berjejak darah di roda-rodanya masuk ke kamar si anak tokoh utama. perpindahan antara realitas dan mimpi sengaja dibuat kabur, agar penonton juga dapat melihat sebagaimana anak-anak tersebut melihat. pas ngantuk, kadang-kadang kita juga nggak menyadari transisi tersebut kan. dan sebagaimana mimpi semua hal bisa terjadi dan,jika memungkinkan, bisa dikontrol. thats why they are called dream warriors, the warriors inside their dream to survive their life.
mengenai karakter, secara umum porsi setiap orang hampir cukup besar, dalam artian cukup berperan dalam pengguliran cerita berikutnya. tapi sebenarnya tetap masih ada tokoh utama, yang entah kenapa diberitahukan secara agak eksplisit dalam filmnya sendiri lewat dialog. perbedaan si tokoh utama dengan tokoh yang lain hanya sebatas skill, bukan sejauh mana ia mengendalikan cerita atau ia sebagai center of attention [they're sharing dream, anyway], selain bahwa dia adalah seorang survivor sampai kata the end. sayangnya, tetap banyak jatuh korban yang agak sia-sia. memang butuh satu-dua korban pada awal cerita untuk memberikan ilustrasi pada penonton mengenai bagaimana kejadian terjadi [egois sekali xp], tapi pada saat klimaks adalah menyebalkan untuk melihat korban masih jatuh. dalam hal ini si sutradara tidak berbeda dari fred krueger, pembunuh anak-anak tidak bersalah.
well this movie quite interesting. sukses menyampaikan hal-hal yang ingin disampaikan. salah satu film horror yang tidak sekedar bertujuan agar penonton takut, tapi juga dapat dikaji. contohnya secara ilmiah : mimpi hasil kerja syaraf otak, atau secara psikonalisis. freud yakin mimpi adalah jendela pikiran bawah sadar. bisa dibahas dari sana, tapi ini kolom review bukan kajian ilmiah. hahah. bagi yang berminat silakan membahas di comment.
eh iya. opening film ini sebuah quote :
"Sleep
Those little slices of Death
How i loathe it"

Edgar Allan Poe! i adore his writings a lot. wew. what a match, the quote, the movie, and my taste.
a good-to-watch movie
rating four out of five [pertimbangkan era pembuatannya, tentu]