shortstory review : The Cask of Amontillado

seperti halnya graham coxon menyelamatkan gw di estetika, cerita pendek yang terbit pertama kali tahun 1846 [yes yes this world is that old] ini menyelamatkan gw di ujian akhir filsafat bahasa. dari tiga soal yang agak teknis tentang filsafat bahasa, soal keempat memerintahkan untuk bercerita tentang salah satu karya sastra yang pernah dibaca [karena kalo blom pernah dibaca gimana ya cara ceritanya? xp] dan dihubungkan dengan salah satu teori filsafat bahasa. cerita ini gw jelaskan dengan teori bahasanya sartre mengenai pengobjekkan. bukannya menjelaskan tentang pengaruh si cerita terhadap pembaca, gw malah mengaplikasi teori tsb dalam hubungan antarkarakter dalam cerita. gak ada instruksi yang jelas di soalnya, dan gak ada cerita lain atau teori lain yang bisa gw pikirin, so it went so. gw kira gw salah nalar, but i earned 85 though. yeay. long live classic literature


inti dari cerita ini [yang juga adalah KESELURUHAN cerita - explanations later] adalah Montresor yang membunuh Fortunato dengan motif balas dendam. cerita ini bersudutpandang orang pertama [using 'I'], tapi seolah ia bercerita kepada orang yang sudah sangat mengetahui dirinya [ia menggunakan frase "you, who so well know the nature of my soul"] yang berakibat tidak ada penjelasan apa-apa mengenai hal-hal di luar kejadian yang sedang berlangsung [current issue] [tenang, jangan mati penasaran hanya karena tidak tahu alasan, motif, latar belakang cerita. we all dont know it, even Fortunato]. dari awal cerita, diperindah dengan narasi akuan, kita dengan mudah membaca dan merasakan alam pikiran Montresor yang dingin, marah, tapi tetap dingin, rasional, dan tidak panik. sama sekali. intepretasikan emosimu sendiri. ini salah satu ciri khas Allan Poe yang diduga menginspirasi lahirnya cerita-cerita detektif di waktu mendatang. paragraf-paragraf deskriptif tersusun, tapi tidak membuat cerita sempit dan menumbuhkan rasa penasaran yang berlebihan. susunan ceritanya begitu rapi sehingga pembaca terbawa flow dan berilusi sebagai ‘invisible third party’ yang mengekor kedua orang itu menuju kematian salah satunya. rasa penasaran yang ada hanyalah ‘bagaimana selanjutnya’ bukan ‘kenapa demikian, emangnya dia ngapain’. efek dingin kalimat-kalimat narasi membuat kematian Fortunato akhirnya terjadi begitu saja, dengan cara yang tidak umum, tanpa ada dramatisasi. bahkan bisa jadi membuat pembaca lupa beremosi. jangan lupa, kita sedang mandi dalam darah dingin Montessor, kita mengikuti detak jantungnya dan membaca pikirannya yang sedang berlangsung. bisa jadi kita melupakan emosi kita sendiri. yes, the narrative is THAT BLOODY ABSOLUTELY GOOD.
dalam cerita ini banyak detil-detil kata yang jangan sampai terlewat kita bisa terlalu menyibukkan diri dengan emosi dan imajinasi sehingga detil-detil kecil terlewat. hati-hati karena bisa kelewatan hal penting. masalah diksi, karena ini klasik, jadi banyak kata-kata yang agak asing. kalo baca yang versi asli, siap-siap kamus. masalah bahasa juga, sempat dipertanyakan setting cerita tersebut karena ada gabungan elemen-elemen beberapa negara Eropa seperti motto Skotlandia, anggur Spanyol, dan beberapa hal lain..
eh? jadi dimana teori bahasanya? pengobjekkan. gimana Montessor melakukan persuasi terhadap Fortunato demi mencapai tujuannya. pengobjekkan dengan bahasa.
pesan moral dari cerita ini :
.hati-hati dengan pujian atau reversi dari orang lain
.Nemo me Impune Laccesit ["no one wounds me with impunity"]

3 Responses to “shortstory review : The Cask of Amontillado”

  1. Menzano O o O o Says:

    the best

  2. Dtqqrjqh Says:

    Hey, i save funny photos
    here

  3. Soovethef Says:

    Bite my shiny metal ass, assholes, you were joked!

Leave a Reply